Pagi yang cerah. Dunia baru untuk saya. Lalu di tengah hari, badai datang. Hujan deras, angin dan petir. Seakan dewa langit membaca perasaan hati saya. Terima kasih telah mengapresiasikan perasaan saya, by the way.
Saya bukan tipe orang yang mudah menyerah harusnya. Tapi kali ini entah kenapa saya merasa menyerah.
Kayakya gue harus cari jurusan lain.
Karena gue nggak bisa follow up materinya.
Pada akhirnya gue akan jatoh juga karena pondasinya nggak kuat.
Ini cuma tinggal tunggu waktunya aja.
.Perbincangan kecil di sela-sela kuliah.
Saya nggak begitu yakin, saya ada di jalan yang benar.
Nggak tau, gue nggak tau bakat gue dimana.
Sastra? Mau jadi apa hidup gue?
Kerja apa nanti? Penulis? Get real!
Gue nggak bisa begini terus, tertekan.
.Saat ditanya mengenai keinginan saya yang sebenarnya.
Jadi, saya ada di tempat yang salah?
Entah, belum tau mau kuliah dimana.
Gue nggak tau gue sukanya apa.
Gimana nih masa depan gue?
Apa perlu tes bakat lagi ya?
.Teman saya yang masih belum tau mau kuliah dimana.
Kenapa saya bisa ada di sini? Kenapa saya bisa ingin masuk arsitektur?
Serius, gue nggak bisa ngegambar.
Bohong.
Serius.
Kenapa lo bisa masuk sini kalo gitu?
Mana gue tau! Tanya yang ngelulusin tes masuk gue!
Pasti lo bisa gambar, nggak mungkin deh.
Terserah mau percaya apa nggak.
.Waktu diminta membuat ilustrasi.
Dari pertama saya sudah diberi peringatan.
Kamu masih belum bisa perspektif,
Kamu masih belum bisa render,
Kenapa kamu nggak les?
Kamu harus follow up temen-temen kamu.
.Awal semester satu.
Dan dengan kemujuran saya lulus peringatan pertama. Tapi tetap, saya minder dengan kemampuan teman-teman lain.
Lo bisa. Pasti bisa.
Cuma lo belum maksimal aja.
Semuanya bisa dilatih.
Sering-sering sketsa biar lancar gambarnya.
Nggak. Bukan itu.
Ini masalah bakat.
Dan gue nggak bakat ngegambar.
.Ketika di test sketsa.
Saya malu. Saya bikin nama unpar jelek. Saya mahasiswi arsitektur unpar yang perspektifnya jelek banget, cat airnya kayak anak tk, nggak kreatif, dan fatalnya, nggak bisa ngegambar. Fatal. Bikin malu unpar.
Kalau sama saya, ada satu aturan.
Gambar kamu harus bagus.
Desain kamu harus kreatif.
Saya nggak mentolerir selain yang itu.
.Peringatan kedua.
Saya benar-benar terbebani. Materinya nggak nyampe ke saya. Blank. Desain saya blank.
Desain kamu masih terlalu simple.
Belum diolah.
Belum dieksplorasi.
Coba didesain lagi.
.Desain awal.
Saya butuh baca lebih banyak, saya ternyata butuh waktu lebih banyak untuk mempersiapkan diri menuju gerbang arsitektur. Saya rasa saya terlalu cepat memutuskan arsitektur sebagai jalan hidup saya.
Memang kalian bayar berapa sih?
Bayar berapa untuk nyogok masuk unpar?
Nggak mungkin nggak bisa gambar,
Kecuali kalian lewat jalan belakang.
Bilang sama saya, kalian bayar berapa?
.Amarah senior ketika ia meminta sketsa.
Saya lebih suka mengisi lembaran saya dengan rangkaian kata-kata daripada sketsa-sketsa desain seperti yang teman-teman saya lakukan.
Ini elo yang buat?
Lo yakin nggak salah jurusan?
Really.
Mungkin harusnya lo di sastra.
.Pertama kali saya menuangkan emosi saya pada puisi sebagai background.
Fatal. Fatal bahwa saya selalu menganggap dewi fortuna ada di keliling saya. Tidak, dia tidak di sana. Dia pergi. Supaya saya sadar dan merenungkan kembali, apakah ini adalah jalan yang benar?
Kenapa jadinya cuma begini.
Saya mana mungkin bisa lulusin kamu,
Ini bukan desain namanya.
Kayaknya kamu mesti ganti yang baru.
Cari saya besok pagi-pagi sekali.
Kamu gawat banget.
.Puncak segalanya.
Saya takut. Saya nggak punya seseorang sebagai pegangan. Biro konsultasi saya. Saya terlalu malu untuk mengakui itu semua. Terlambat. Semuanya terlambat.
Kuliah di unpar? Arsitektur?
Pinter gambar dong?
Ah, pasti nilainya bagus nih.
Dari dulu bukannya udah bagus.
.Mereka pikir.
Saya berubah. Nggak sama kayak 6 tahun lalu. Di saat semuanya indah, semua bisa saya peroleh dengan mudah. Makin lama, saya makin menjauh. Saya belajar untuk mendapatkan sesuatu yang baik itu. Dan sulit. Saya tidak mampu. Kenapa mereka masih pikir hidup saya semudah yang dulu? Bisa nggak sih stop aja doktrin itu. Berhenti memuji saya. Saya sudah berubah. Dan tidak patut dipuji, karena tidak ada yang bisa dipertanggung jawabkan.
Jadi gimana?
Masih inginkah gue bertahan?
Semua pengorbanan yang ada?
Segala hal yang sudah terjadi?
Arsitektur?
Unpar?
Memang gue punya pilihan lain?
Apa?
TELL ME!
Saya tidak sanggup. Biarkan saya menyendiri dulu. Kuliah pulang. Cukup. Jangan ganggu dulu. Saya tidak mampu menjawab semua pertanyaan di pikiran saya. Yah, mungkin terjawab. Dengan beberapa tetes air mata.
Bandung.
31 Maret 2008
20.56.
No comments:
Post a Comment