Pages

Tuesday, April 13, 2010

we don't have to be an architect.

Kuliah 5 hari seminggu, 2 kali di antaranya intensif dari jam 7 sampe jam 3 sore, memeras otak, memeras air mata, memeras keringat, untuk menjadikan selembar kertas roti putih bersih menjadi agak sedikit lecek plus dipenuhi dengan coretan-coretan pinsil yang katanya sih itu brain storming menuju sebuah desain yang spektakuler.


Buat tugas di rumah demi desain yang spektakuler, 24/7. Sama seperti café-café dan resto cepat saji yang dimana saja dan kapan saja. Tanpa kita sadari tugas studio memang menghantui kita dimana saja dan kapan saja. Saat makan pagi, saat di kampus, saat lagi nonton di bioskop, saat malam mingguan, bahkan saat tidur sampai ke bawa mimpi. Dan itu terjadi setiap harinya.


Jadi ini hidup yang kalian cari? Kerja 24/7 meski nanti sudah berada di bawah biro XXXX yang terkenal. Tapi kerjaan rumah tetap ada, seakan tidak ada separatis antara rumah dan kantor. Apalagi kalau memutuskan untuk menjadi freelance. Wah itu sih, tempat tidur, meja kerja, meja makan, bisa jadi satu spot yang sama maybe. Hari senin, apa hari rabu, apa hari jumat, apa hari minggu, semua berasa senin kayaknya.


Apakah harus seorang mahasiswa jurusan arsitektur menjadi arsitek? Tentu saja tidak perlu.


Seorang dosen yang tidak perlu disebutkan namanya (ahahaha) berkata bahwa gambar-gambar yang kita kerjakan di studio itu bukan desain sepenuhnya. Gambar perspektif yang “wow, kereeen…” juga bukan desain. Gambar-gambar arsitektural lain yang memukau hati sekaligus bikin minder orang-orang seperti saya, itu bukan desain. Desain adalah sesuatu yang ada di pikiran kita, bagaimana kita menyikapi sesuatu. Misalnya kita dikasih tanah, lalu dikasih tahu harus ada fungsi apa yang akan dibangun. Desain adalah bagaimana kita mengatur program aktivitas, fungsi di dalam lahan itu, di dalam bangunan itu, mengakomodasi agar fungsi terpenuhi dan bangunan itu pada nantinya nyaman dipakai oleh pengguna. Gambar merupakan salah satu cara pengungkapan desain. Tapi gambar belum tentu desain.


Mendengar penjelasan tersebut, pikiran saya kembali me-recall pembicaraan saya dengan seseorang sekitar satu tahun yang lalu. Saat itu saya sedang dalam masa stress (sekarang juga sih masih, ahaha), dan give up sama dunia arsitektur. Saya begitu terintimidasi dengan gambar-gambar bagus, dengan prestasi luar biasa dari teman-teman di sekeliling saya. Dan saya benar-benar minder, merasa nggak pantas berada di sekeliling mereka karena skill saya nggak sama. Dan saya berkali-kali marah-marah kenapa saya diterima jadi salah satu mahasiswa di sana padahal saya nggak bisa gambar. Selain bikin malu nama universitas, saya sendiri jadi minderan gitu kan.


Dan orang ini berkata. Nggak mesti bisa gambar untuk menjadi arsitek. Sama seperti nggak mesti jago acting untuk jadi sutradara. Ada yang salah pada sistem pendidikan Indonesia saat ini, kita masih saja dituntut untuk menjadi karyawan yang siap kerja. Padahal ya ampun, coba deh, lapangan kerja sekarang begitu sedikit, sementara lulusan banyak. Kenapa kita nggak dididik untuk menciptakan lapangan kerja? Betul bukan? Buat apa jadi pekerja kalau gak ada yang bisa dikerjain? Lebih baik menciptakan sesuatu yang baru bukan? Dan orang ini berkata lagi, maka dari itu, saya nggak mesti jadi arsitek. Itu sah-sah aja. Saya bisa jadi bosnya para arsitek. Dan kenapa saya mesti mempelajari dunia arsitektur sampai lulus? Supaya saya nggak dibohongin sama tim kerja saya. Semuanya terdengar logis bukan? Dan ya, saya mengangguk-angguk. That’s a great idea!


Lagipula dunia arsitektur pengaplikasiannya luas saya rasa. We are designer! We create all the things! Tapi kita bukan Tuhan, kita masih punya batasan. Dan yang paling penting. Nggak mesti jadi arsitek juga untuk tetap eksis di dunia per-desain-an, that’s it.


Sebuah presentasi menutup kuliah saya di hari Senin kemarin. Dan kata-kata penutup presentasi itu adalah : Kejarlah mimpimu. Tetapkan target, dan capailah. Jangan pernah berhenti berusaha hingga kamu sampai di sana.


Yea. National Geographic, dunia traveling dan budaya….HERE I COME!

No comments: