Pages

Tuesday, March 10, 2009

blur...

Semua yang ada di sekeliling saya mulai blur. Dapat dikatakan mungkin ini saat-saat saya sedang kehilangan arah dan kondisi sekitar saya lah yang mengontrol saya. Saya sulit mengenali diri saya sendiri lagi saat ini.

Mungkin ini berawal dari entah berapa minggu yang lalu, saya tidak dapat begitu mengingatnya. Tapi perasaan ini memang sudah ada dari lama. Perasaan yang sensitive, mudah rapuh, tidak defensive seperti biasanya. Saya lebih banyak memilih untuk diam, duduk, mendengar, menekan ego, tanpa ingin susah-susah mengutarakan pendapat, tanpa susah-susah menyuarakan isi hati. Saya sendiri belum bisa tahu ini kenapa.

Saya lebih banyak merenung, mengandai-andai mengenai suatu kondisi ideal, mengenai suatu kondisi dimana saya mestinya bahagia tanpa ingin memikirkan apa yang ada di depan saya lah yang merupakan realita. Mungkin saya memang kelewat idealis.

Cemberut dan muram adalah suasana yang biasa saya rasakan. Sengaja atau tidak sengaja. There’s something wrong. Tapi saya nggak tau itu apa, apa yang salah, apa yang kurang. Saya kesulitan mengevaluasi diri saya sendiri. Dan ya, memang nge-blue banget suasananya. Kamar saya juga dipenuhi alunan lagu mellow, lagu slow yang kinda menjurus ke lagu-lagu patah hati. Tapi, saya sendiri sih nggak lagi patah hati, since masalah patah hati yang lalu itu udah dikubur dalam-dalam, haha… (tapi kemarin dia hampir membuat saya jatuh cinta lagi. Gimana nggak, so sweet banget sih dianya… Ugghh) Sesuatu yang salah telah terjadi, bantu saya menemukan kesalahan itu.

Kemarin ketika LDK dilaksanakan, hari minggu di kampus, ada personality test lagi. Teringat jaman dulu, bagaimana excitednya saya mengisi test itu. Saat belom kenal sama jenis-jenis kepribadian yang ada. Sekarang, melihat soalnya rasanya sudah bosan, muak, hahaha… Karena yang akan saya isi juga nggak berubah jauh-jauh amat. Dan yeah. Koleris-melankolis. Kali ini kadar sanguinis habis diberantas. Tinggal 2 point saja, sementara koleris menang 20 point. Dan melankolis 12 point serta plegmatis di jajaran 5 point. Lelah. Saya lelah sebenarnya. Lelah menjadi orang kolerik yang melankolis. Karena artinya saya kembali ke jaman dulu. Susah santai, kepikiran terus, maunya kerja rapi, perfeksionis, gampang emosi kalau apa yang saya idealkan tidak terpenuhi dan tentunya nggak sabaran menghadapi orang lain.

At least pertanyaan awal saya terjawab. Kenapa saya mudah sensitive. Karena kadar melankolis saya lagi tinggi mungkin. Kenapa kolerik dan melankolis saya menjajah habis diri saya? Nah itu dia. Kalau menurut pemikiran saya, ini efek dunia kuliah. Dunia kuliah saya lagi menuntut saya untuk bersikap begitu mungkin. Supaya saya lebih focus, lebih bisa mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Atau memang saya sendiri lagi krisis kepercayaan seperti jaman dulu lagi?? Itu iya juga. Saya lagi sulit percaya sama orang lain karena beberapa kali saya dikecewakan oleh mereka. Dan kalau menyangkut sesuatu yang berhubungan dengan masa depan, saya nggak suka dikecewakan.

Sebenarnya saya mulai sedikit menyesali kebiasaan membaca novel saya. Tanpa saya sadari, semua novel-novel fiksi-drama yang saya baca mengantarkan saya pada dunia ideal yang saya buat sendiri dalam pemikiran saya. Berdasarkan atas mimpi-mimpi akan dunia indah yang ditawarkan oleh novel fiksi, saya jadi membuat suatu batasan-batasan ideal yang harus saya capai. Meskipun novel yang saya baca nggak selalu happy ending. Mind set saya sulit banget diubah ke arah dunia yang lebih real sehingga saya agak sulit untuk mensyukuri apa yang ada di depan saya. Keluarga, teman-teman, sahabat, semua orang-orang yang saya sayangi. Sebenarnya, here they are. Mereka ada di sana, saat saya membutuhkan. Hanya saja saya selalu memungkiri bahwa saya butuh seseorang di saat saya butuh ditemani. Saya terlalu berpikiran bahwa mandiri adalah segalanya.

Saya terus menyangkal diri sendiri dimana saya butuh hidup sebagai makhluk sosial di antara kesuksesan saya menjadi makhluk individu. Daan…saya menyangkal diri sendiri dimana saya harus mengatakan “I need you friends.” Or specially “I need you!”. Karena menurut saya, itu bukan porsi saya yang mengatakan hal seperti itu. Saya lebih ingin merasa diperlukan daripada memerlukan, padahal apa yang saya rasakan adalah berkebalikan. Yeah, itu memang soal harga diri saya yang saya taro terlalu tinggi dari gapaian tangan saya. Tapi yeah, saya akan panggil tukang untuk membetulkan lemari saya,supaya agak turun sedikit dan harga diri itu akan lebih mudah diambil.

Yang saya rindukan sebenarnya adalah kehidupan saya yang hmm…bukan yang dulu juga. Yang sempat saya jalani dulu lebih tepatnya. Dimana saya bisa benar-benar menikmati hidup sebagai makhluk sosial dan individu dengan porsi yang seimbang. Saat teman-teman tidak begitu jauh terasa dan saat bercerita tentang hidup saya bukan menjadi sesuatu hal yang begitu membuat saya malas, karena takut dianggap mengekspos diri sendiri. Umbar cerita, bahasa kasarnya. Saya rindu bisa tertawa lepas saat weekend, menikmati hangatnya hot caramel machiatto sambil cerita-cerita ringan bahkan untuk sekadar saling meledek. Saya rindu untuk pergi ke bioskop, nonton bareng bilang drama-comedy sambil makan popcorn dengan butter yang banyak sampai batuk-batuk habis itu, tanpa harus memikirkan besok-lusa-minggu depan deadline ini itu udah harus ditepati sehingga seakan tidak ada waktu untuk menghibur diri, dan saat pergi jalan-jalan terasa begitu me-refresh diri bukan stress karena ekonomi cukup buruk saat ini.

Kadang kembali ke kehidupan yang dulu tampak begitu menggiurkan. Tapi lagi-lagi, ini efek kebanyakan baca novel. Mana mungkin sih kita bisa kembali ke kehidupan yang dulu. Itu cuma angan-angan yang tidak pernah nyata. Yang mungkin adalah kita menjalani hidup ke depan, belajar dari kehidupan di belakang kita, mengevaluasi diri, untuk melangkah menuju lembaran hidup baru dengan cara yang paling sesuai dengan keinginan kita. Rite?

1 comment:

Anonymous said...

*mainin lagu Reminiscence buat jeanette