- Mendung di Awal November –
‘A Grey Sky Morning’ merupakan kata yang saya ambil dari lagunya Vertical Horizon. Berhubung seminggu ini Bandung mendung juga, hujan terus, yah diambillah judul itu.
Kehidupan berjalan normal, saya pikir sudah selesai saya beradaptasi di kota Bandung ini selama hampir satu setengah bulan. Tapi ternyata saya masih diberi cobaan. Hujan. Yeps. Cukup menyiksa karena selain hujan, anginnya juga dingin sekali. Kemana-mana sekarang saya harus membawa jaket dan payung. Belum lagi kalau hujannya sangat deras dan tepat ketika akan kuliah. Menyebalkan, saya harus berlari menembus hujan sambil berharap dosennya memaafkan keterlambatan saya. Suhu kamar saya pada bulan Agustus dan September lalu di siang hari bisa mencapai 26-28 derajat Celcius. Paling gila mungkin 29 derajat dimana saya harus berkeliaran di rumah kos dengan celana pendek dan kaus tangan buntung. Tapi setelah hujan turun, sekitar jam 12 siang, dimana harusnya panas sedang terik-teriknya, suhu kamar saya hanya berkisar antara 23-25 derajat. Bagaimana kalau dini hari? Tidak heran saya harus menarik selimut saya serapat mungkin agar tidak mengigil kedinginan.
Saya sudah mulai bisa menikmati kegiatan kuliah belakangan ini. Habis mau bagaimana lagi, semuanya sudah terlambat untuk memutuskan kembali dan ternyata terlalu sayang untuk tidak dinikmati. Tugas-tugas semakin menggila. Kerjaan studio (salah satu mata kuliah saya, dimana saya harus menghabiskan waktu sekitar 7 jam di ruangan besar dengan meja gambar besar, soal tugas dan lembaran kertas-kertas manila ukuran A2 yang harus diisi gambar) yang tadinya 2 lembar menjadi 3 lembar lalu menjadi 5 lembar, dan sekarang 7 lembar. Nggak kebayang deh gimana kondisi hari offset (pengumpulan tugas). Belum lagi ditambah dengan dua maket di setiap tugasnya. Indah bukan?
Kondisi saya sedang tidak baik. Pulang malam sekitar jam 12 dalam seminggu belakangan ini memberikan dampak tidak begitu baik pada kesehatan saya. Daya tahan tubuh menurun karena jadwal makan juga jadi kacau balau. Selain itu ditambah lagi beban tugas-tugas yang semuanya kejar tayang. Sudah cape pulang sekitar jam 11 atau 12, masih harus tidur dini hari untuk mengerjakan tugas. Akibatnya seperti sekarang ini, saya ambruk, minum obat flu dan tertidur dari jam 5 sore sampai jam 10 malam benar-benar tidak terbangun. Ya, mungkin itu untuk membayar hutang tidur saya semalam karena saya tidak tidur untuk mengerjakan tugas maket.
Sebenarnya ada satu hal yang ingin saya utarakan. Saat ini saya sedang merasa sedikit...., ya bisa dikatakan sakit hati begitulah. Sudah lama memang saya tau bahwa saya merasa tersinggung, tapi saya tidak dapat berbuat apa-apa. Karena mungkin memang itu benar apa adanya. Kritikan-kritikan yang biasa terdengar memang saya anggap angin lalu saja karena yang memberikan kritikan memang orangnya begitu. Ada sih rasa keberatan dan rasa tidak terima. Tapi buat apalah cari masalah, hanya akan menambah runyam suasana saja. Sampai tadi saya mendengar sebuah lontaran komentar yang membuat saya merenung kembali seharian.
“Siapa sih saya?”
Iya, saya ini siapa sampai-sampai saya bersikap seperti saya yang sekarang. Memang dari dulu saya sadar bahwa selalu ada rasa ingin memimpin dalam diri saya, yang merupakan bagian dari kepribadian kolerik saya. Tetapi mungkin itu sekarang terasa annoying buat orang lain. Saya tidak tahu sampai tadi kalimat itu terlontar. Saya jadi menyadari bahwa tampaknya saya pribadi yang annoying dan tampaknya tidak begitu banyak orang yang dapat menerima ‘annoying’ itu. Ini pendapat pribadi saya. Saya sampai kepada tahap memikirkan kembali, apa saja yang telah saya lakukan. Mungkin sikap saya terlalu berlebihan dan terlalu peduli. Itu yang akan coba saya introspeksi. Mungkin saya harus lebih biasa aja dan lebih cuek.
Tapi tinggal diam bukan salah satu sikap yang saya sukai dalam konteks ini. Kalau tinggal diam atas omongan orang atau sikap menyakitkan orang lain mungkin bagi saya sudah biasa, yang merupakan bagian dari sisi plegmatis saya. Tapi ini beda masalahnya. Saya hanya mencoba ikut ambil bagian dalam kegiatan yang sedang diselenggarakan dan ikut membantu panitia intinya untuk mengingatkan teman-teman lain. Apakah itu salah? Lalu mengapa teman saya yang melakukan hal yang sama dengan saya tidak mendapat perlakuan yang sama seperti yang dilakukan terhadap saya?
Pertanyaan yang terlontar itu memberikan kesan bahwa saya ingin sekali dianggap eksis, dianggap penting dan sok penting. Padahal saya hanya mencoba membantu teman-teman saya yang ada di kepanitiaan inti. Saya ikut merasa imbasnya apabila teman-teman satu angkatan tidak banyak yang datang ke acara pembinaan. Semua yang datang selalu dijadikan sasaran empuk pertanggung jawaban atas ketidakhadiran sisa dari teman-teman satu angkatan. Dan konsekuensi yang ditanggung bukanlah hal yang menyenangkan. Semakin banyak pertemuan, semakin larut pulang ke rumah, semakin menumpuk tugas yang harusnya dicicil. Mereka yang tidak datang tanpa keterangan yang jelas mungkin sedang sibuk mencicil tugasnya, sementara yang datang ke acara pembinaan sedang misuh-misuh karena habis dimaki-maki sambil pusing karena tugas belum sempat dikerjakan.
Jadi, pada intinya, salahkah saya apabila saya memperjuangkan kondisi lebih baik atas diri saya dan teman-teman saya yang sering datang ke acara pembinaan? Saya tidak tahan lagi harus duduk di lantai dingin sejak jam 4 sore hingga jam 12 malam hanya untuk mendengar omelan yang intinya menanyakan, mengapa teman-teman saya banyak yang tidak hadir. Itu bukan suatau yang menyenangkan untuk dilakukan setiap dua hari sekali. Siksaan perlahan, menurut saya. Kemana perginya solidaritas?
Memang benar, hidup saya sedang kelabu. Hidup saya belakangan ini banyak sekali mendapat cobaan untuk tetap menahan emosi, menahan diri, menerima semua kritikan dengan ikhlas. Saya tau ada sisi lain dari diri saya yang ingin merasa bebas. Menjadi diri saya apa adanya. Yang penuh emosi, kurang sabaran. Tapi keadaan di sini lain. Saya harus benar-benar mengontrol diri saya. Cukup tersiksa karena harus sedikit menjadi orang lain yang bukan pribadi saya. Tapi demi kepentingan bersama, tidak ada salahnya saya terus mengontrol diri, menjaga emosi dan tidak terlalu memikirkan omongan orang lain.
Inilah hidup. Tidak ada salahnya merenungi diri sendiri dan mencoba memperbaiki bagian mana saja yang salah.
Bandung, 9 November 2007
12.06 AM
Penulis.
No comments:
Post a Comment