…Di ujung jalan itu…, setahun kemarin…., ku teringat…
Sepotong lagu dari Kahitna akan mengawali kisah saya malam ini. Memang kisahnya nggak ada hubungan sama isi lagu itu, tapi entah kenapa, saya terus menyanyikan kalimat itu dari siang hari tadi…
Saya melewati siang dengan terlarut dalam diam. Sehabis makan siang, saya sebenarnya bingung mau apa karena keadaan studio juga kosong (studio : mata kuliah jurusan arsitektur yang berlangsung dua kali seminggu dari jam 7 pagi – 3 sore). Tapi saya teringat betapa kerepotannya saya yang terus-terusan ketinggalan target asistensi gambar ke dosen. Saya selalu mundur satu langkah dari yang lain karena desainnya ganti-ganti terus. Jadilah saya bertobat siang itu, dan bertekad untuk membetulkan gambar-gambar yang tadi sempat dicoret-coret si bapak dosen karena salah. Karena meja kelompok saya cukup kosong, akhirnya saya menjajah meja teman saya (yang pulang karena nggak ada kerjaan di studio. Ih. Curang!). Saya duduk di meja paling ujung, dekat jendela, melihat langsung pemandangan rumah-rumah semrawut di belakang kampus dengan background gunung dan langit mendung. Sesekali angin bertiup. Menyenangkan sekali mood duduk di situ. Saya memulai lembar pertama gambar saya, ditemani lagu-lagu yang ada di handphone yang saya putar secara random. Hingga sampai pada sebuah lagu jazz instrumental (thanks, lo masukin lagu mello-mello jazz lo ke hp gw) mengalun pelan, tepat ketika saya berhenti menggambar untuk menatap ke luar jendela sebentar. Tepat saat itu juga angin bertiup pelan, menerbangkan sedikit rambut saya yang diikat karena tadi pagi tidak sempat keramas. Deg. Rasanya saat itu sangat blue… Moodnya pas, alunan lagu pas, pemandangan pas dan membuat saya melayangkan pikiran saya pada hal lain selain gambar bermodul 3x3 di depan saya.
Angin serasa berbisik pada saya. How’s life uh?
Hidup saya….menyebalkan. Setiap kali dikejar deadline, ngin. Setiap Senin malam dan Kamis malam rasanya mau mati, ngejar target, mengutuki masalah kemalasan saya.
Ya kamu memang malas. Liat tuh temen-temen yang lain, nggak ada yang kerepotan kayak kamu. So, kamu akan terus begini?
Thanks atas pernyataannya. Saya selalu punya keinginan untuk menjadi lebih baik. Tapi nggak semua keinginan bisa terwujud menjadi kenyataan kan? Kadang mimpi hanya mimpi yang hanya bisa terbang di dunia alam bawah sadar, merajalela, namun tidak punya kuasa di dunia yang sebenarnya.
Kamu pasti bisa, Jean. Trust me.
Thanks, ngin. Well, suasana gini bikin saya nge-blue. Enak untuk ngelamun.
Sebaiknya kamu berhenti menoleh ke luar jendela. Teruskan pekerjaanmu. Saya juga hanya mampir sebentar. Nampaknya langit akan segera menangis, lebih baik saya pergi.
Oke. Makasih sudah mampir…
Dan tentunya. Percakapan itu hanya khayalan saya. Tapi tadi oke banget suasananya.
Hari ini pun dilanjutkan dengan menghabiskan waktu sore saya bersama teman-teman. Setelah saya sadari sepanjang makan sore tadi, saya udah lama banget nggak duduk bareng, makan, dan membicarakan hal yang bukan tugas kelompok. Rasanya…itu terjadi…terakhir kali awal semester lalu, waktu saya belum jadi makhluk autis yang cumin kuliah-pulang. Ya… Dan banyak banget up date cerita yang saya lewatkan karena saya nggak aktif di himpunan. Kita ngobrol dari mulai hal-hal berat mengenai masalah politik kampus soal pemilihan presiden mahasiswa baru (*ah, lagu kesukaan saya sedang diputarkan oleh iPod saya, yang saya putar random, haha, intermezzo ga penting), pemilihan ketua himpunan baru sampai kepada hal nggak penting yang bikin kita ketawa-ketawa sampe sakit perut, apalagi kalau bukan membicarakan kebodohan yang telah kita lakukan. Lalu pembicaraan pun mengalir menuju acara yang dilaksanakan tahun lalu. Tepatnya tanggal 23 April 2008.
Hari ini, tahun lalu, mungkin saya ditemukan sedang tertidur di kelas saat dosen mengajar karena belum cukup tidur satu atau dua minggu. Penampilan acak-acakan, dengan jaket tebal karena tahun lalu, bulan ini adalah musim hujan yang anginnya dingin gila. Saya pasti menghabiskan sore saya di bawah dak beton di plaza GSG sambil mengantuk, membantu teman-teman menyiapkan properti untuk latihan performance art. Kalau nggak salah, besok malam dimana kita menginap masal. Dikerjain latihan sampe subuh, diomel-omelin sambil ujan, haha… Sebenernya udah nggak denger juga diomelin apa, secara kurang tidur dan udah pada sakit gitu orang-orang. Sampai semua orang bisa tidur dimana aja. Bahkan pas latihan gerakan, teman saya bisa tidur sambil berdiri karena kita harus menunggu sekitar 5-10 menit karena kordiv yang melatihnya dipanggil sebentar. Saat semua orang sedang deg-degan luar biasa karena udah H-2 acara. Udah di titik jenuh, di titik lelah, di titik muak, tapi juga sudah di titik puncak kita akan show. Meski saya merasa acaranya geje banget.
Lalu tadi saya dan teman saya ketawa-ketawa bareng dengan konyolnya gerakan yang harus kita lakukan saat itu. Proses mencari gerakannya juga kocak. Sampai kita menamakan tarian jawa bukan tarian bintang. Waktu itu saya yang bilang “Eh ini backsoundnya ga bisa lebi gaul dikit yak? Kayak nari jawa gini sih?” (diikuti teman saya menari jawa tiba-tiba di depan saya). Sutradaranya hanya bisa tersenyum lemah dengan terjemahan dr senyumannya kira-kira : “bawel lo, udah ikutin aja. Gue udah mau gila nih kalo lo nggak mau nari bikin gerakan lagu itu.” Dan jadi ingat, saat itu sayalah yang paling lemot waktu latihan (dulu fav spot latihan kita adalah selasar hukum – fisip di malam hari. Haha. Karena nggak ke ekspos orang dan spacenya cukup panjang).
Aaah…menyenangkan meski menyiksa. Meski menjadi salah satu faktor berantakannya kuliah saya, dan hancurnya kehidupan studio saya berikutnya. Hahaha… Saking terlalu banyak mainnya. Ck ck… Tapi saya ingat waktu saya tahu saya nggak lulus studio, dan saya bilang sama temen kosan saya. At least saya tahu dimana letak kesalahan saya sehingga saya nggak lulus. Dan saya nggak nyesel karena saya melewatkan moment-moment luar biasa bersama teman-teman. Daripada saya udah kuliah pulang doang, nggak seru-seruan sama temen-temen, dan ujungnya nasibnya malah sama kayak saya. Aaah… Nggak dapet apa-apa juga kan akhirnya? Hehehe…
Hari ini hari penuh mengingat kenangan. Ketika hari sudah malam, tadi saya mampir ke kampus untuk ambil tugas. Ketika berdiri di ujung WT, sebelum turun dan menuju ruang himpunan, saya menatap balok itu. Balok panjang di bawah dak beton, tempat saya menghabiskan malam-malam panjang penuh perjuangan untuk mempersiapkan acara. Yea, di ujung jalan ini, setahun kemarin, ku teringat… Duduk kedinginan, berbagi jaket tebal saya dengan yang lain, bersandaran untuk beristirahat sejenak menunggu instruksi lebih lanjut. Atau malah berkeliling merekam kegiatan yang dilakukan teman-teman sebagai dokumentasi. Atau menghibur teman saya yang sedang menangis karena belum buat tugas. Atau membantu teman saya menyiapkan property, atau buat kop, atau membereskan kostum, atau mencari sebungkus oreo di kotak Danus. Atau atau atau seribu satu kenangan lain tumpah ruah di pikiran saya.
Meski tadi saya hanya melihat sebuah balok kosong yang panjang dengan poster capres di sana. Saya merasa, balok itu tetap balok sejarah, sejarah moment-moment indah yang saya dapatkan bersama teman-teman saja.
Aniwei, rasanya saya berbicara terlalu random…. Aaah, I don’t care. Haha.
Sepotong lagu dari Kahitna akan mengawali kisah saya malam ini. Memang kisahnya nggak ada hubungan sama isi lagu itu, tapi entah kenapa, saya terus menyanyikan kalimat itu dari siang hari tadi…
Saya melewati siang dengan terlarut dalam diam. Sehabis makan siang, saya sebenarnya bingung mau apa karena keadaan studio juga kosong (studio : mata kuliah jurusan arsitektur yang berlangsung dua kali seminggu dari jam 7 pagi – 3 sore). Tapi saya teringat betapa kerepotannya saya yang terus-terusan ketinggalan target asistensi gambar ke dosen. Saya selalu mundur satu langkah dari yang lain karena desainnya ganti-ganti terus. Jadilah saya bertobat siang itu, dan bertekad untuk membetulkan gambar-gambar yang tadi sempat dicoret-coret si bapak dosen karena salah. Karena meja kelompok saya cukup kosong, akhirnya saya menjajah meja teman saya (yang pulang karena nggak ada kerjaan di studio. Ih. Curang!). Saya duduk di meja paling ujung, dekat jendela, melihat langsung pemandangan rumah-rumah semrawut di belakang kampus dengan background gunung dan langit mendung. Sesekali angin bertiup. Menyenangkan sekali mood duduk di situ. Saya memulai lembar pertama gambar saya, ditemani lagu-lagu yang ada di handphone yang saya putar secara random. Hingga sampai pada sebuah lagu jazz instrumental (thanks, lo masukin lagu mello-mello jazz lo ke hp gw) mengalun pelan, tepat ketika saya berhenti menggambar untuk menatap ke luar jendela sebentar. Tepat saat itu juga angin bertiup pelan, menerbangkan sedikit rambut saya yang diikat karena tadi pagi tidak sempat keramas. Deg. Rasanya saat itu sangat blue… Moodnya pas, alunan lagu pas, pemandangan pas dan membuat saya melayangkan pikiran saya pada hal lain selain gambar bermodul 3x3 di depan saya.
Angin serasa berbisik pada saya. How’s life uh?
Hidup saya….menyebalkan. Setiap kali dikejar deadline, ngin. Setiap Senin malam dan Kamis malam rasanya mau mati, ngejar target, mengutuki masalah kemalasan saya.
Ya kamu memang malas. Liat tuh temen-temen yang lain, nggak ada yang kerepotan kayak kamu. So, kamu akan terus begini?
Thanks atas pernyataannya. Saya selalu punya keinginan untuk menjadi lebih baik. Tapi nggak semua keinginan bisa terwujud menjadi kenyataan kan? Kadang mimpi hanya mimpi yang hanya bisa terbang di dunia alam bawah sadar, merajalela, namun tidak punya kuasa di dunia yang sebenarnya.
Kamu pasti bisa, Jean. Trust me.
Thanks, ngin. Well, suasana gini bikin saya nge-blue. Enak untuk ngelamun.
Sebaiknya kamu berhenti menoleh ke luar jendela. Teruskan pekerjaanmu. Saya juga hanya mampir sebentar. Nampaknya langit akan segera menangis, lebih baik saya pergi.
Oke. Makasih sudah mampir…
Dan tentunya. Percakapan itu hanya khayalan saya. Tapi tadi oke banget suasananya.
Hari ini pun dilanjutkan dengan menghabiskan waktu sore saya bersama teman-teman. Setelah saya sadari sepanjang makan sore tadi, saya udah lama banget nggak duduk bareng, makan, dan membicarakan hal yang bukan tugas kelompok. Rasanya…itu terjadi…terakhir kali awal semester lalu, waktu saya belum jadi makhluk autis yang cumin kuliah-pulang. Ya… Dan banyak banget up date cerita yang saya lewatkan karena saya nggak aktif di himpunan. Kita ngobrol dari mulai hal-hal berat mengenai masalah politik kampus soal pemilihan presiden mahasiswa baru (*ah, lagu kesukaan saya sedang diputarkan oleh iPod saya, yang saya putar random, haha, intermezzo ga penting), pemilihan ketua himpunan baru sampai kepada hal nggak penting yang bikin kita ketawa-ketawa sampe sakit perut, apalagi kalau bukan membicarakan kebodohan yang telah kita lakukan. Lalu pembicaraan pun mengalir menuju acara yang dilaksanakan tahun lalu. Tepatnya tanggal 23 April 2008.
Hari ini, tahun lalu, mungkin saya ditemukan sedang tertidur di kelas saat dosen mengajar karena belum cukup tidur satu atau dua minggu. Penampilan acak-acakan, dengan jaket tebal karena tahun lalu, bulan ini adalah musim hujan yang anginnya dingin gila. Saya pasti menghabiskan sore saya di bawah dak beton di plaza GSG sambil mengantuk, membantu teman-teman menyiapkan properti untuk latihan performance art. Kalau nggak salah, besok malam dimana kita menginap masal. Dikerjain latihan sampe subuh, diomel-omelin sambil ujan, haha… Sebenernya udah nggak denger juga diomelin apa, secara kurang tidur dan udah pada sakit gitu orang-orang. Sampai semua orang bisa tidur dimana aja. Bahkan pas latihan gerakan, teman saya bisa tidur sambil berdiri karena kita harus menunggu sekitar 5-10 menit karena kordiv yang melatihnya dipanggil sebentar. Saat semua orang sedang deg-degan luar biasa karena udah H-2 acara. Udah di titik jenuh, di titik lelah, di titik muak, tapi juga sudah di titik puncak kita akan show. Meski saya merasa acaranya geje banget.
Lalu tadi saya dan teman saya ketawa-ketawa bareng dengan konyolnya gerakan yang harus kita lakukan saat itu. Proses mencari gerakannya juga kocak. Sampai kita menamakan tarian jawa bukan tarian bintang. Waktu itu saya yang bilang “Eh ini backsoundnya ga bisa lebi gaul dikit yak? Kayak nari jawa gini sih?” (diikuti teman saya menari jawa tiba-tiba di depan saya). Sutradaranya hanya bisa tersenyum lemah dengan terjemahan dr senyumannya kira-kira : “bawel lo, udah ikutin aja. Gue udah mau gila nih kalo lo nggak mau nari bikin gerakan lagu itu.” Dan jadi ingat, saat itu sayalah yang paling lemot waktu latihan (dulu fav spot latihan kita adalah selasar hukum – fisip di malam hari. Haha. Karena nggak ke ekspos orang dan spacenya cukup panjang).
Aaah…menyenangkan meski menyiksa. Meski menjadi salah satu faktor berantakannya kuliah saya, dan hancurnya kehidupan studio saya berikutnya. Hahaha… Saking terlalu banyak mainnya. Ck ck… Tapi saya ingat waktu saya tahu saya nggak lulus studio, dan saya bilang sama temen kosan saya. At least saya tahu dimana letak kesalahan saya sehingga saya nggak lulus. Dan saya nggak nyesel karena saya melewatkan moment-moment luar biasa bersama teman-teman. Daripada saya udah kuliah pulang doang, nggak seru-seruan sama temen-temen, dan ujungnya nasibnya malah sama kayak saya. Aaah… Nggak dapet apa-apa juga kan akhirnya? Hehehe…
Hari ini hari penuh mengingat kenangan. Ketika hari sudah malam, tadi saya mampir ke kampus untuk ambil tugas. Ketika berdiri di ujung WT, sebelum turun dan menuju ruang himpunan, saya menatap balok itu. Balok panjang di bawah dak beton, tempat saya menghabiskan malam-malam panjang penuh perjuangan untuk mempersiapkan acara. Yea, di ujung jalan ini, setahun kemarin, ku teringat… Duduk kedinginan, berbagi jaket tebal saya dengan yang lain, bersandaran untuk beristirahat sejenak menunggu instruksi lebih lanjut. Atau malah berkeliling merekam kegiatan yang dilakukan teman-teman sebagai dokumentasi. Atau menghibur teman saya yang sedang menangis karena belum buat tugas. Atau membantu teman saya menyiapkan property, atau buat kop, atau membereskan kostum, atau mencari sebungkus oreo di kotak Danus. Atau atau atau seribu satu kenangan lain tumpah ruah di pikiran saya.
Meski tadi saya hanya melihat sebuah balok kosong yang panjang dengan poster capres di sana. Saya merasa, balok itu tetap balok sejarah, sejarah moment-moment indah yang saya dapatkan bersama teman-teman saja.
Aniwei, rasanya saya berbicara terlalu random…. Aaah, I don’t care. Haha.
No comments:
Post a Comment