Pages

Tuesday, April 14, 2009

tak tahu apa judulnya

Suntuk.


Bukan hal luar biasa bagi saya. Sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Yang biasanya sulit dihadapi adalah bagaimana melepaskan suntuk itu. Karena si suntuk sendiri mengganggu aktivitas saya, kehidupan saya, terutama saya hidup di dunia desain. Suntuk akan mengakibatkan dunia kiamat. Serius.


Teringat semalam. Saya sedang meratapi hidup saya yang kian memburuk. Kekecewaan terhadap diri sendiri yang begitu dalam karena nilai-nilai saya lagi jelek, tidak segemilang semester lalu. Saya tahu, saya itu memang orang yang sulit bagi waktu. Karena saya suka sibuk, suka ikut kegiatan, suka juga melupakan kewajiban saya apabila ada hal lain yang lebih menyenangkan untuk dilakukan. Dan itu tidak baik. Hasil pengisolasian diri saya hampir satu semester mengakibatkan nilai saya gemilang. Tanpa terlibat di organisasi manapun, berusaha kabur dari semua tanggung jawab yang coba diberikan pada saya. Berbalikan dengan keadaan sekarang. Sibuk ini itu, pengen ikut ini itu. Daaan….semuanya menggiurkan untuk dilakukan. Akibatnya. Yeah. Nilai berantakan. Mungkin saya ditakdirkan untuk memilih. Akademik, atau kehidupan “akademik sosial”. Saya bukan tipe seperti orang-orang gemilang lainnya yang bisa melakukan hal-hal itu secara bersamaan, berjalan beriringan. Kapasitas intelektual saya rendah. Jadi untuk hal-hal luar biasa seperti itu, untuk saat ini hanya angan-angan.


Jadi. Mungkin sampai akhir semester ini, saya akan mundur dulu dari segala aktivitas. Untuk minggu ini dan minggu depan saya akan coba menyelesaikan semua tanggung jawab dan kewajiban yang harus saya selesaikan. Selebihnya saya akan mundur sampai dengan Ujian Akhir Semester selesai. Ini semua demi kelangsungan hidup saya, kelangsungan hidup kita semua, ahaha… Kayak apaan aja…


Tapi serius. Saya nggak mau lebih lama lagi di sini. Di dunia desain penuh penyiksaan ini, ahahaha, nggak segitunya juga sih. Saya pengen cepet bebas, mengesampingan bahwa saya belum punya gambaran mau kerja apa, mau S2 apa nggak, kalo lulus mau ngapain. Oh no. Tapi please, saya nggak mau ngulang studio lagi. Enough. Meski katanya tak ada berhasil tanpa gagal. Yea, I believe it.


Hari ini kulap ke Bogor. Melelahkan karena tadi panas luar biasaaa… Trus nggak jelas abis mau ngeliat apa di sana, masih blur banget. Berhubung udah panas juga, jadi kita udah ilfil mau nanya-nanyanya. Emosi iya, rasa ingin tahu langsung sirna.


Tapi over all, saya senang pergi kulap hari ini. Karena perginya bersama keluarga studio kecil. Hahaha, kenapa saya sebut keluarga? Karena mereka memang keluarga saya di studio. Tadi berhasil ketawa-ketawa, cekikikan terus di sepanjang jalan sampai mengganggu kedamaian orang-orang yang sedang tidur di dalam bus. Dari mulai main tebak-tebakan, nyanyi-nyanyi, ngegaring sampe cape sendiri ketawa. Tapi itulah mereka. Itulah yang selalu saya rindukan dari adanya perjalanan bersama di dalam bus. Di mulai dari satu tante ribet yang nggak bisa kena macet, pusing di dalem bus, mondar-mandir kayak setrikaan, nyariin orang yang punya coklat, cerita ngidam sour sally, sampe minta pangku layaknya anak kecil. Disusul dengan bangunnya orang-orang yang lagi damai tidur karena dia ribet abis, sumpah deh. Trus jadilah mulai “main yuu… boseeen…”. Dan mulailah segala ge-garing-an ala mereka. Dari ‘Artis from A-Z’, ‘Sinetron from A-Z’, ‘Lagu from A-Z’, ‘Siapa presiden Inggris pertama’, ‘Apa itu glomelurus (oh maan…), ‘Enzim apa di tubuh?’, ‘Urutan mekanisme pencernaan?’, ‘beda sentripetal, sentrifugal?’, ‘Pendiri kerajaan Demak?’, ‘Peluang seorang bapak kocok dadu (blah blah blah, lupa gw mereka ngmg apa)’, ‘Reaksi kimia antara ini dan itu…’, ‘Pasal 34 isinya apa?’, ‘Majas pars pro toto yang gimana ya?’ sampai pada ‘Siapa penemu SKJ?’. Kita ribut dan heboh sendiri. Entahlah 4 dosen di kursi depan berkomentar apa, we don’t care. Yang penting kita hepi! Hahaha…


Tapi sumpah, tadi entertaining bangettsss…. Sampe kita semua lupa semua kesuntukan, semua tugas yang menanti, hingga bus melaju memasuki Pasteur. ‘Finally. It’s Bandung again.’ Salah seorang berkata dengan wajah ngantuk. ‘Ah, gw masih harus nyetir sampai rumah.’ Sambil sayup-sayup terdengar choir lagu ‘a whole new world’ dari kursi di belakang saya. Suasana makin sendu. Ketika bus melaju melewati Cipaganti dan berbelok menuju Gandok. Mulailah aura itu kembali, aura yang saya benci. ‘Teman, stam tugas apa ya besok?’ ‘Eh, ada yang kbs gak bsk?’ ‘Aduh, bbb gimana niiih?’ ‘Eh, pranata kita ada tugas ga si?’ ‘eh tugas ini siapa yang mau kerjain?’ ‘abis ini kerja kelompok langsung ya?’ ‘Eh, besok ketemuan, tukeran data.’ ‘Haduuuh, tugas tugas tugas, ngantuk lagi. Gawat!’ Dan ya…. Semua hal menyenangkan yang sempat terjadi bubar jalan sekejap. Tapi ketika puluhan pasang kaki melangkah turun dari bus malam ini, saya masih dapat melihat senyuman bahagia dan binar mata terhibur di wajah mereka, meski dalam hati dan pikiran mereka sudah dipenuhi tugas-tugas.


Sooo…

Kapan perjalanan bersama berikutnya?

Semester depan pastinya.


Dan berjanjilah. Tidak ada satu orang pun di antara kita yang akan tertinggal.

Kita harus bertemu di ruang studio yang sama di hari Selasa-Jumat di semester ganjil berikutnya. Percaya deh, kita pasti bisa. Saya sendiri akan berusaha lebih sungguh.


Terima kasih temans.

Saya sayang kalian semuaaaa….

1 comment:

nanda said...

hmm hmm hmmm,,,

mungkin tergantung lu memposisikan akademik sosial itu dimana y net,,, hahahah,,,

bagi gw, mengurus sesuatu di luar kuliah tu jadi semacam pelarian gw dari kesuntukan ama tugas2...

dan bagi gw, di UKM yang gw pilih, olahraga, keringatan, dan menghajar target jadi semacam pelampiasan emosi gw dari nilai2 jelek di kuliah,,, hahaha

what about you??
kalau emang itu yang terbaik ya,,, good luck!^^


btw, (again) nice story. Makes me wonder...